Untuk kedua kalinya, memasuki bulan Ramadhan (latepost) di tempat perantauan. Rasanya ya begitulah, enak enak gak enak, hehehe.
Tetapi untuk saat ini, memang Dia menempatkanku disini, dan memberikan rezeki-Nya di kota ini. Harus dijalani dengan sungguh-sungguh dan ikhlas. Alhamdulillah banyak teman-teman baru disini yang membuat saya cepat merasa nyaman di tengah hiruk pikuk kota sebesar ini.
Sedikit menengok ke belakang, ketika saya menjalani pendidikan di kota kecil perbatasan Indonesia, dengan teman-teman yang terbatas, Alhamdulillah tetap bisa menikmati keindahan kota kecil tersebut. Meramaikan hati meski suasana disana sedang sepi. Dan sekarang di kota yang besar, megah, dan ramai ini, saya juga harus bisa enjoy dan menikmati segala sesuatunya. Walaupun terkadang merasa ingin menikmati ketenangan seperti kota kecil yang aku singgahi sebelumnya. Semuanya harus aku lakukan demi masa depanku, masa depan keluargaku.
Ngomong-ngomong tentang keluarga, dimana pun saya berada, Alhamdulillah selalu ada orang-orang baik yang mau menganggap aku sebagai keluarga barunya. Sangat bersyukur akan hal itu, semoga hubungan ini tidak hanya sementara. Dan jika ingat tentang keluarga lagi, tentunya aku punya keluarga yang selalu setia mendoakan dan mendukungku meskipun dari tempat yang sangat jauh. Mereka semua selalu menguatkanku untuk bertahan menghadapi segala cobaan hidup.
Dan sebenernya aku sangat rindu pada keluargaku yg sedang berada jauh disana, teringat lebaran idul fitri tahun lalu saya terpaksa tidak mudik, dan tidak merayakan lebaran bareng mereka. Semoga rencana mudik tahun ini dilancarkan oleh-Nya, dan diberikan kelonggaran waktu untuk lebih lama berkumpul sama mereka lagi, semoga dan semoga. Amin ya Allah.
Friday, June 19, 2015
Marhaban ya Ramadhan
Monday, June 15, 2015
Puasa Senin Kamis
Akhirnya kembali menulis lagi, walaupun isinya biasa saja, yang penting bisa berbagi dan mengurangi kejenuhan saya selepas bekerja, hehehe. Apabila ada yang kurang pas, mohon koreksinya.
Sesuai judulnya, saya akan sedikit membahas tentang Puasa Senin-Kamis. Saya disini bukanlah ahli agama, tetapi hanya sekedar kepingin share tentang kebiasaan saya dan manfaatnya.
Sedikit yang saya tau tentang kebiasaan Rasulullah Muhammad SAW berpuasa Senin dan Kamis, dikarenakan penghitungan amal ibadah umat manusia itu dilakukan pada hari Senin dan Kamis, sehingga Rasulullah ingin ketika amalannya dihitung, Beliau dalam keadaan berpuasa.
Tidak banyak yang saya tau tentang puasa sunnah, tapi beberapa yang saya ketahui dalilnya Alhamdulillah rutin saya kerjakan sampai sekarang, terutama puasa Senin dan Kamis ini. Yang saya rasakan selama rutin menjalankan salah satu ibadah sunnah ini, terutama berdampak pada kesehatan saya. Alhamdulillah saya sering terhindar dari penyakit, dan walaupun berperawakan kurus, tapi tetap saja sanggup melakukan tanggung jawab, meskipun dalam keadaan berpuasa.
Banyak keutamaan dari ibadah-ibadah sunnah. Dari salah satu ibadah yang rutin saya lakukan ini saja, manfaat yang dirasakan sungguh luar biasa. Apalagi bila ditambah dengan ibadah sunnah lainnya. Khususnya saya pribadi tidak pernah berpikiran melaksanakan ibadah sunnah ini (puasa Senin dan Kamis) hanya untuk tujuan tertentu saja. Terkadang saya tidak memikirkan untuk apa saya melakukan puasa ini, hanya saja saya ingin lebih mendekatkan diri kepada Allah. Dengan begitu tidak akan terasa sia-sia ibadah yang kita lakukan. Beberapa manfaat lagi yang saya rasakan, ketika sedang merasa kesusahan terutama dalam hal materi. Sebagai anak perantauan, terkadang kebutuhan semakin membengkak, bahkan untuk makan pun harus benar2 diatur kondisi keuangannya. Hal tersebut beberapa kali saya alami, tapi Alhamdulillah dengan puasa Senin dan Kamis ini sedikit dapat mengurangi pengeluaran dan bahkan secara tidak terduga terkadang muncul rezeki dari sekitar (semoga rezeki yang halal dari-Nya). Bila dipikir-pikir, sebenernya saya ini orang yang agak susah bergaul, tetapi Alhamdulillah banyak teman-teman disekitar saya yang selalu saja bisa diajak untuk berbagi, tidak hanya kebahagiaan tetapi juga berbagi kesedihan. Alhamdulillah banyak manfaat yang dapat dirasakan dengan berpuasa sunnah ini. Semoga kedepannya ibadah saya semakin bertambah baik dan selalu ingat akan kekuasaan dan kebesaran Allah SWT. Masih banyak hal luar biasa dari-Nya yang tidak akan habis diceritakan disini, beberapa hal yang sudah saya ceritakan saja sungguh terasa istimewa, apalagi jika kita rajin beribadah, berusaha, dan berdoa kepada-Nya, Insya Allah hidup kita akan selalu dilancarkan segala urusan di dunia maupun di akhirat.
Ya Allah, aku selalu berusaha dan berdoa kepada-Mu agar diberi petunjuk dalam menjalani lika-liku kehidupan ini. Dan selalu berikan hamba-Mu kekuatan dalam menghadapi setiap cobaan yang Engkau berikan. AMIN
Friday, November 28, 2014
"Maaf" dan "Terima Kasih"
Kata yang sangat singkat tetapi sangat susah untuk diucapkan pada saat yang tepat. Tidak banyak orang yang mau mengucapkan kedua kata ("Maaf" dan "Terima Kasih") secara ikhlas ketika memang harus diucapkan kedua kata tersebut. Bahkan ada yang bisa dibilang "gengsi" untuk mengucapkan salah satu dari kedua kata tersebut.
Saya disini bukan bermaksud untuk mengharapkan seseorang disekitar untuk mengucapkan kata-kata tersebut terhadap semua yang saya lakukan atau yang mereka lakukan kepada saya. Tetapi saya disini termasuk orang yang sedang membiasakan untuk mengucapkan salah satu dari kedua kata tersebut pada saat yang tepat, meskipun hal sekecil apapun bila perlu untuk mengucapkannya pasti saya ucapkan.
Bisa dibilang saya cukup berhasil dalam menerapkan pemakaian kedua kata tersebut. Tampak sepele, tapi berarti sangat besar dalam kehidupan saya. Salah satunya mudah bergaul dengan orang-orang disekitar. Kedua kata tersebut menurut saya dapat menunjukkan seberapa sabar seseorang dalam menghadapi masalah. Jadi akan lebih banyak orang yang dekat dengan kita (ditambah sedikit sikap humoris, maka akan terasa lengkap).
Percaya atau tidak, dengan membiasakan diri mengucapkan kedua kata tersebut, dapat mengurangi pemikiran negatif saya terhadap seseorang, atau sebaliknya. Misalnya, ketika ada bantuan sedikit apapun dari seseorang kepada saya, pasti akan saya bilang "Terima kasih" agar orang tersebut pun dengan senang hati karena telah membantu saya tadi (meskipun awalnya terasa berat bagi dia untuk membantu saya -mungkin-). Dan juga saya membuang jauh-jauh pikiran jelek seperti "Ah, cuman bantuan segitu saja kok, tidak kamu bantu pun saya bisa mengerjakan sendiri". Disinilah kata "Terima kasih" bisa membuat kita menjadi semakin dekat dengan orang-orang sekitar kita (menurut saya). Dan juga satu kata lagi "Maaf" yang simple dan singkat, tetapi tidak semua orang dapat dengan mudah mengucapkannya. Dengan kata "Maaf" tersebut dapat juga membuat pikiran negatif orang terhadap kita berkurang. Misalnya, ketika kesalahan sekecil apapun kita lakukan, langsunglah meminta maaf kepada orang yang bersangkutan, sehingga orang tersebut tidak menganggap kita sebagai orang yang menyepelekan masalah.
Kedua kata tersebut sangatlah simple dan mudah diucapkan, tetapi dengan membiasakan diri disertai dengan keikhlasan dalam pengucapannya akan lebih baik dan terasa lebih nikmat bagi yang mengucapkannya.
Itu lah yang dapat saya tulis, berdasarkan apa yang saya rasakan. Jadi apabila ada kekurangan saya minta maaf, dan saya ucapkan juga terima kasih bagi teman-teman yang mau membaca tulisan ini, syukur ada juga yang mau berbagi pengalaman apa saja yang menarik untuk diceritakan :-)
Friday, November 14, 2014
Dilema "Hati Nurani" dan "Kenyataan"
Indonesia dari dulu -masih- merupakan negara berkembang. Kalau dilihat dari segi perekonomian, masih banyak saudara-saudara kita yang berada dibawah garis kemiskinan. Dari sekian banyak (maaf) warga miskin di Indonesia, tidak sedikit dari mereka yang memilih untuk menjadi (maaf) pengemis. Nah disini saya akan menceritakan -yang saya tahu- tentang hitam putih kehidupan seorang pengemis yang membuat saya bingung, antara harus memberikan rasa iba (kasihan) dan teguran kepada mereka. Tapi kan saya bukan siapa-siapa yang berhak memberikan teguran kepada mereka, hehe.
Jadi ceritanya begini, di dekat tempat tinggal saya yang asli, ada beberapa orang yang 'sukses' dari kehidupannya sebagai pengemis. Bagaimana bisa tahu? Awalnya saya cuma diberitahu teman tentang hal tersebut, teman saya sudah lama mengetahui tentang hal-hal kayak begini, tetapi saya sendiri merasa gak percaya dengan cerita mereka. Hingga akhirnya saya melihat sendiri kehidupan para pengemis di dalam dan di luar rumah mereka, itupun karena diajak sama teman saya tadi. Ketika pagi hari, mereka -red : pengemis- berdandanan rapi ala orang kantoran yang membawa tas jinjing seolah akan berangkat kerja ke kantor yang super mewah dan megah. Perlu diketahui, rumah mereka ada dikawasan elit, sehingga tidak banyak orang yang menaruh curiga dengan pekerjaannya. Sampai di suatu tempat, atau bisa disebut tempat 'mangkal' nya, barulah mereka ganti pakaian kumuh dan lusuh yang biasa dipakai untuk mengemis. Yah walaupun tidak semua pengemis seperti itu, tapi 'katanya' banyak juga kok yang sukses dari kehidupannya sebagai pengemis. Bukan bermaksud untuk mengajari menjadi pengemis agar cepat kaya, tapi tulisan ini saya maksudkan untuk memberitahu teman-teman betapa kita harus benar-benar memilih orang yang tepat untuk menyampaikan sedekah kita. Saya sendiri dulunya selalu merasa iba melihat para pengemis di pinggir jalan, tetapi setelah melihat ada 'beberapa' orang pengemis yang sukses dari pekerjaannya itu, saya jadi merasa risih melihat mereka. Ya walaupun terkadang masih memberi juga kalau ada pengemis minta-minta, tentunya saya lihat dulu apakah mereka benar-benar layak (menurut saya) untuk diberikan sedikit rezeki saya.
Terus yang terbaru, sering kali saya melihat banyak pengemis di lampu merah yang masih sehat wal'afiat, segar bugar, dan tanpa cacat sedikitpun tanpa rasa malu meminta-minta kepada orang-orang yang sedang berhenti di lampu merah. Coba bagaiman menurut teman-teman kalau melihat pemandangan seperti itu? Mungkin apa yang ada dipikiran teman-teman sama juga seperti yang saya pikirkan. Walaupun ada juga yang benar-benar cacat, sehingga untuk beraktivitas pun susah. Akan tetapi kalau dilihat di dunia ini, banyak juga kok orang yang (maaf) cacat secara fisik ataupun mental, tetapi mereka bisa sukses dalam kehidupannya dengan kerja keras mereka (bukan dengan cara mengemis). Kalau mereka aja bisa, kenapa yang masih sehat-sehat tadi memilih untuk menjadi pengemis ya? Sungguh memalukan menurut saya dengan fisik dan pikiran yang sehat, mereka harus melakukan pekerjaan yang sangat dibenci oleh Allah, hanya karena tergiur keuntungan yang instan tanpa bekerja keras, hanya bermodalkan 'muka tebal' saja. Dalam hati saya merasa iba kalau melihat para pengemis ini, tetapi kadang kala terlintas juga pikiran apakah dia ini benar-benar seorang pengemis yang butuh bantuan kita, apa cuma pengemis yang membohongi kita? Entahlah.
Satu hal lagi, banyak sekarang modus orang-orang mencari 'rezeki' dengan mempekerjakan anak-anak kecil untuk mengemis ataupun mengamen. Manusia secara normal, apabila melihat anak kecil yang bekerja seperti itu, pasti akan merasa iba dan kasihan. Akan tetapi dibalik kerja mereka, ada 'mafia' yang memeras tenaga mereka untuk terus bekerja. Dalam hal ini pun saya sering merasakan dilema dalam hati saya, antara ingin membantu anak kecil ini atau tidak. Tapi sampai saat ini saya belum bisa berbuat banyak. Cuma bisa memberi sedikit rezeki yang saya punya untuk mereka, walaupun saya tahu banyak anak-anak itu yang bekerja untuk orang dewasa yang tega memeras tenaga mereka. Ya memang itulah yang bisa saya bantu untuk anak-anak kecil (yang katanya penerus bangsa) ini.
Sungguhlah kehidupan ini begitu berat kalau kita tidak mau berusaha dan berdo'a. Yang penting selalu sabar dan ikhlas menghadapi cobaan dari-Nya dan tak lupa untuk selalu bersyukur atas segala rezeki yang diberikan oleh-Nya.
